Asuhan Keperawatan GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN (ASKEP)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)
Pendahuluan :
Masalah yang sering di alami seorang pria usia lanjut yang berhubungan dengan sistem perkemihan adalah Benign Prostatic Hyperlasia (BPH). Prostat adalah organ perkemihan yang sering mengalami neoplasma : Benigna atau Maligna.
Masalah ini sering terjadi pada 50 % pria diatas usia 50 tahun, dan 75 % pria di atas 70 tahun. Di Indonesia insiden ini akan banyak ditemukan sehubungan dengan semakin banyaknya usia lanjut karena meningkatnya usia harapan hidup. Dengan demikian akan banyak pula kasus ini tinggal rawat di rumah sakit yang pada umumnya berindikasi pembedahan.
Pada kondisi ini, sebagai seorang perawat akan sering diperhadapkan dengan masalah keperawatan yang terkait dengan kasus BPH terutama yang berhubungan dengan tindakan pembedahan. Oleh karena itu perawat perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk menangani klien BPH khususnya dalam asuhan keperawatan perioperatif (pra bedah, intra bedah, dan pasca bedah).
Etiologi :
BPH adalah pembesaran jaringan kelenjar prostat yang bersifat jinak. Walaupun tidak diketahui secara pasti penyebabnya sebab bersifat universal terjadi pada usia lanjut. Namun demikiandiperkirakan bahwa peningkatan jumlah sel prostat sebagai hasil dari adanya perubahan endokrin yang berhubungan dengan proses penuaan. Terjadinya akumulasi dihydroxytestosteron (hormonm androgen utama dalam kelenjar prostat), stimulasi estrogen, dan aktifitas hormon pertumbuhan lokal lainnya dianggap berperan dalam terjadinya BPH (Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000)
Demikian pula dengan faktor yang berhubungan dengan diet, pengaruh inflamasi kronik, faktor sosial ekonomi, herediter, dan ras semuanya dapat dipertimbangkan berperan dalam terjadinya BPH (Black & Jacobs, 1997).
Faktor Resiko :
BPH sering ditemukan pada seorang pria lanjut usia, oleh karena itu tidak ada pencegahan utamanya. Pria dengan kastraksi atau yang mengalami hypogonadism sebelum pubertas atau pada pria awal dewasa jarang mengalami BPH. Insiden meningkat pada pria kulit hitam, dan kurang pada pria Asia (Black & Jacobs, 1997).
Yang utama adalah deteksi dini merupakan pencegahan sekunder yang terbaik. Deteksi dini diperlukan guna menangani secara cepat sehingga mencegah terjadinya komplikasi yang berhubungan dengan obstruksi saluran  perkemihan bagian bawah.
Sebaiknya pemeriksaan prostat sudah dilakukan pada usia 40 tahun.
Pathophysiology :
Pembesaran prostat yang bersifat junak adalah peningkatan secara abnormal jumlah sel normal(hyperlasia) dalam prostat, agaknya juga terjadi pembesaran sel-sel prostat(hypertrophy).
Kelenjar periurethral yang mengalami hiperplasi pada usia lanjut yang secara bertahap bertumbuh dan menekan pada sekeliling jaringan prostat yang normal yang mendorong kelenjar kedepan, dan membentuk kapsul.
Komplikasi yang mungkin terjadi akibat pembesaran prostat termasuk hambatan aliran urin dan juga akan mengakibatkan terjadinya urinary reflux (backward flow) yang akan menyebabkan dekompensasi uretrovesical junction.
Akibat dekompensasi menyebabkan peningkatan tekanan kandung kemih yang lama, menipisnya dinding kandung kemih akibat peregangan dan memudahkan terjadinya infeksi kandung kemih atau terbentuknya batu kandung kemih.
Akibat tekanan kandung kemih, ureter akan mengalami tekanan dan obstruksi sehingga dapat menyebabkan hydroureter dan selanjutnya dapat menyebabkan hydronephrosis,akibatnya piala ginjal dan kaliks akan mengalami distensi dan jaringan parenkim ginjal akan mengalami atrofi. Selanjutnya obstruksi yang terjadi bila  berlangsung lama atau mengalami reflux akan menyebabkan terjadinya insufisensi renal.
Manifestasi Klinik :
BPH biasanya terjadi secara perlahan-lahan sehingga dalam perkembangannya kadang-kadang tidak dirasakan sebagai gangguan. Perlu diketahui bahwa pada usia lanjut, akan terjadi peningkatan frekuensi berkemih. Bila seseorang mengeluh bahwa jumlah dan kekuatan aliran urin tidak terjadi secara normal, maka patut dicurigai terjadinya BPH dan perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut.
Pada BPH, aliran urin berkurang derasnya, nampak aliran melemah dan kadang-kadang hanya menetes. Klien akan merasakan kurang puas dalam berkemih. Mungkin pula terdapat darah dalam urin.
Akibat pembesaran prostat, akan sangat berbahaya terjadinya obstuksi perkemihan yang komplit dan terjadi retensi. Retensi dapat dipicu oleh :