Asuhan Keperawatan Nutrisi (ASKEP)

Mas Oke | 2:08 AM | 0 komentar
KEBUTUHAN NUTRISI

Tujuan pembelajaran :
Setelah mempelajari materi ini, peserta didik :
1. Mendefinisikan beberapa batasan-batasan utama.
2. Dapat mengambarkan peran, sumber-sumber, dan defisiensi dari 6 kelas nutrisi
3. Menggambarkan proses pencrnaan, absorpsi, metabolisme, anabolisma dan katabolisma
4. Menggambarkan bagaimana perawat membantu klien dalam merencanakan diet
5. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi nutrisi
6. Menggambarkan masalah umum dalam nutrisi dan bagaimana asuhan keperawatan dapat membantu menyelesaikan masalah
7. Mengimplementasikan proses keperawatan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi klien

Perawat harus memiliki pemahaman dasar nutrisi guna mendidik dan memberikan asuhan keperawatan untuk kesehatan klien sesuai dengan kebutuhan nutrisi klien atau masalahnya. Mata kuliah ini akan mempersiapkan perawat memberikan asuhan keperawatan sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi klien. Setelah perkuliahan ini mahasiswa memperoleh pengetahuan guna mengkaji asupan nutrisi, mengembangkan diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan nutrisi, membuat tujuan, menggunakan berbagai metoda guna memilih makanan, dan mengevaluasi secara efektif dan efisien.
Nutrisi, sebagai kebutuhan dasar harus terpenuhi pada klien guna mempertahankan kehidupannya, hal ini sangat menonjol dalam lapangan kesehatan sehari-hari. Mengapa seseorang tidak kuat atau malas membaca?. Hal ini disebabkan karena kekurangan energi yang dibentuk dari makanan.

Nutrisi

Asuhan Keperawatan MENINGITIS (ASKEP)

Mas Oke | 10:34 AM | 0 komentar
Askep Meningitis
Pendahuluan
Meningitis adalah peradangan selaput otak, sumsum tulang belakang, atau keduanya. Penyebabnya adalah bakteri atau virus, meningitis sering didahului oleh infeksi pernafasan, tenggorokan, atau tanda-tanda dan gejala-gejala flulike. Sejumalah kuman Neisseria meningitidis merupakan penyebab yang sering terjadinya meningitis. Penyakit ini mempunyai insiden tinggi pada anak dibawah usia 5 tahun, dengan puncak insiden pada anak usia 3 sampai 5 tahun. Bentuk meningitis yang berat yaitu meningococcemia yang dimulai dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian. Tanda-tanda dan gejala-gejala meliputi demam tinggi, lesu, menggigil, dan adanya rash.
PENGKAJIAN

Saraf
· Kejang-kejang
· Peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
· Sunset eyes (setting-sun sign)
· Kekakuan
· Kernig’s sign positif
· Brundzinzki’s sign positif
· Reaksi pupil menurun
· Gelisah
· Opisthotonos
· Nyeri kepala
· Menangis dengan bunyi melengking
Pernafasan
· Baru saja mengalami riwayat infeksi, sakit tenggorokan, atau tanda-tanda dan gejala-gejala flulike
Gastrointestinal
· Muntah
Integumen
· Ubun-ubun menonjol
· Petechiae
· Ekstremitas dingin
· Rash
· Sianosis
· Demam
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK
Hasil yang diharapkan
Anak tidak akan mengalami tanda-tanda peningkatan TIK
Intervensi
1. Kaji status neurologis anak setiap 2 sampai 4 jam, catat adanya tanda kelemahan, penonjolan ubunubun (pada bayi), perubahan pupil, atau kejang-kejang
2. Monitor asupan dan output cairan setiap pergantian dinas
3. Monitor tanda-tanda vital setiap 2 sampai 4 jam
4. Catat kualitas dan nada nangis anak
Rasional
1. Pengkajian status neurologis yang sering sebagai dasar mengidentifikasi tanda-tanda dini peningkatan TIK
2. Peningkatan volume cairan akan meningkatkan TIK
3. Sura nyaring yang ditimbulkan saat anak menangis berindikasi peningkatan TIK
Intervensi
1. Lakukan pencegahan kejang, seperti menggunakan artifisial airway dan peralatan pengisapan lendir dan pasang penghalang tempat tidur.
2. Berikan pengobatan anticonvulsan, sesuai petunjuk.
3. Selama kejang, berikan tindakan :
· Bantu anak baring miring ditempat tidur atau dilantai, bebaskan dari faktor yang menghalangi pada area pernafasan
· Jangan mengikat anak, tetapi biarkan bebas
· Jangan menempatkan sesuatu di mulut anak
· Kaji status pernafasan anak
· Catat berbagai gerakan anak dan lamanya kejang-kejang
Rasional
1. Pencegahan ini akan membantu anak jatuh, injury kepala, anoksia, tercekik, dan mati dan mengurangi risiko komplikasi yanglain
2. Pengobatan anticonvulsan membantu mengontrol kejang
3. Tindakan ini membantu melindungi anak dan follow-up tindakan
· Tahap ini membantu mencegah injury akibat terjatuh dan dari gerakan sentakan selama kejang
· Pengikatan atau gerakan yang kuat pada anak menyebabkan anak mengalami injury
· Mencoba memasukkan benda kedalam mulut anak dapat merusak gigi dan gusinya
· Anak memerlukan resusitasi pernafasan jika mengalami apnea selama atau setelah kejang
· Jenis gerakan ini dan lamanya kejang membantu menjelaskan apakah jenis kejang yang dialami anak
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Hipertemia berhubungan dengan infeksi
Hasil yang diharapkan
Suhu badan anak akan turun kurang dari 100˚F (37.8˚C)
Intervensi
1. Monitr suhu badan anak setiap 2 sampai 4 jam,
2. Berikan antipiretik sesuai petunjuk
3. Berikan antimikroba, sesuai petunjuk
4. Pertahankan lingkungan sejuk
5. Berikan kompres (98.6˚ F [(37˚C)], sesuai petunjuk
Rasional
1. Monitoring penurunan temperatur
2. Antipiretik menurunkan demam yang diturunkan sampai suhu normal
3. Antimikroba menangani infeksi
4. Lingkungan yang sejuk akan menurunkan demam melalui kehilangan panas secara radiasi
5. Kompres dingin pada permukaan tubuh secara konduksi.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawat di rumah
Hasil yang diharapkan
Orang tua akan mengekspresikan pemahamannnya tentang instruksi perawatan di rumah
Intervensi
1. Ajarkan orang tua bagaimana dan kapan diberikan obat, termasuk uraian tentang dosis dan reaksi samping
2. Ajarkan orang tua pentingnya memberikan instirahat yang adekuat pada anak.
Rasional
1. Pemahaman pentingnya pengobatan yang teratur dapat meninkatkan pemulihan. Pengetahuan tentang kemungkinan terjadinya reaksi samping obat memungkinkan orangtua dapat segera mencari pertolongan saat diperlukan
2. Setelah infeksi, istirahat yang sering akan meningkatkan pemulihan.
Ceklist pencatatan
Selama tinggal di rumah sakit, pencatatan :
· Kindisi anak dan pengkajian selama di rumah sakit
· Perubahan kondisi anak
· Pemeriksaan laboratorium dan test diagnostik yang dilakukan
· Kondisi neurologis anak
· Asupan dan output cairan
· Asupan makanan
· Status tumbuh kembang
· Respon pengobatan anak
· Reaksi orang tua terhadap penyakit anak dan tinggal di rumah sakit
· Pedoman pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya
· Pedoman rencana pulang
Myelomeningocele
PENDAHULUAN
Pada myelomeningocele, merupakan bentuk yang sering pada spina bifida, dimana kolumna spinal tidak menutup sempurna, dan terdapat kantong tipis padfa nbagian dari sumsum tulang belakang, meningen, dan cairan spinal menonjol dari bagian belakang.
Hidrosefalus dapat terjadi 70 % sampai 90 % pada semua bayi yang lahir dengan myelomeningocele yang terjadi baik saat dalam rahim maupun selama periode neonatal.
Pengukuiran kadar alpha-fetoprotein dalam cairan amniondapat membantu mendeteksi adanya kelainan, dimana terjadi kira-kira 1 dalam 1000 kelahian hidup. Lokasi dari kelaianan akan membantu memnentukan tingkat keparahannya. Sebab myelomeningocele dan kelaianan saluran saraf m,empunyai hubungan dengan defisiensi asam folik, ibu dengan usia subur dapatmenurunkan risiko dengan cara meningkatkan asupan asam folik.
Potensial komplikasi termasuk paralisis, kelainan sendi, meningitis, dan berkurangnya kontrol berkemih dan defekasi. Pengobatan termasuk pembedahan, pemberian obat antibiotik, terapi fisik, latihan berkemih dan defekasi. Banyak anak dapat berjalan dengan menggunakan tongkat atau bidai.
PENGKAJIAN
Persarafan
· Penurunan tingkat kesadaran
· Penambahan lingkar kepala
· Ubun-ubun menonjol
· Letargy
· Iritabilitas
Pernafasan
· Apnea
Gastrointestinal
· Muntah
· Berkurangnya refleks ,mengisap
Genitourinary
· Dysuria
· Retenmsi urin
· Urin menetes-menetes
· Inkontinen
Integumen
· Kebocoran cairan otak kluar dari kantong yang terbentuk
· Suhu badan tidak stabil
· Kerusakan kulit
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terbnetuknya kantong dan prosedur pembedahan
Hasil yang diharapkan
Bayi tidak mengalami tanda-tanda infeksi pasca bedah yang ditandai dengan suhu kurang dari 100˚ (37,8˚),jumlah sel darah putih sesuai dengan usia, dan tidak ada pengeluaran purulen dari luka.
Intervensi
1. Selama pasca bedah dan periode dini pascabedah, mempertahankan bayi dalam posisi tengkurap dengan bagian bokong lebih tinggi dari kepala.
2. Gunakan selimut atau bantal pasir guna mempertahankan bayi bergerak dari sisi ke sisi
3. Selama periode prabedah, tutup kantong dengan kasa steril dengan larutan garan normal. Yakinkan bahwa tempat itu tertutup dengan balutan baru dimana balutan tidak lepas lagi dari tempatnya.
4. Uji cairan yang mengalir keluar dari kantong untuk pemeriksaan glukosa. Informasikan segera ke dokter bila cairan otak menetes dari kantong.
5. Selama periode pasca bedah, letakkan balutan pleister transparan dibagian atas bokong dibawah kantong
6. kaji adanya tanda-tanda infeksi setiap 4 jam ( termasuk demam, peningkatan sel darah putih, dan cairan purulen mengalir keluarg dari kantong) atau kejang-kejang.
7. Perhatikan pentingnya tehnik mencuci tangan dengan baik pada semua pengunjung.
Rasional
1. Posisi tengkurang akan mengurangi tekanan pada bagian kantong, mengurangi risiko rupur.
2.Tindakan ini membantu mempertahankan bayi dalam posisi tengkurap
3. Pembungkus yang lembab dibagian atas kantong akan mempertahankan membran tetap lembab, membantu mencegah robekan kantong dan pengeluaran caiueran otak yeng belrebihan
4. Cairan otak dengan uji glukosa yang positif. Kebocoran cairan otak menimbulkan risiko meningitis.
5. Balutan plastik membantu mencegah kontaminasi pada kantong atau insisi pembedahan.
6. Pengkajian yang sesering mungkin memungkinkan deteksi dini dan pengobatan infeksi atau kejang-kejang.
7. Tehnik mencucui tangan dengan baik akan mengurangi risiko infeksi.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Hipotermia berhubungan dengan kehilangan suhu melalui kantong
Hasil yang diharapkan
Bayi akan mempertahankan suhu tubuh kurang dariu 100˚F (27,8˚C).
Intervensi
1. Selama periode prabedah dan pasca bedah dini, letakkan bayi dan inkubator atau penghangat.
2. Monitor suhu tubuh bayi setiap 4 jam kemungkinan suhu tidak stabil.
Rasional
1. Akibat kebocoran kantong, bayi akan meningkatkan jumlah area permukaan kulit yang terkena. Dengan memasdukkan kedalam inkubator atau pengkangat akan meminimalkan kehilangan suhu secara konveksi dan evaporasi dari permukasan kulit.
2.Suhu yang tidak satabil merupakan tanda disfungsi utama atau tanda0tanda infeksi awal, seperti sepsis atau meningitis.
DIANGNOISA KEPERAWATAN
Gangguan perfusi jaringan serebralerbhubunagn dengan hidrosefalus dan peningkatan tekanan intrakranial(TIK)
Hasil yang diharapkan
Bayi tidak mengalami tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (penonjolan ubun-ubun, penambahan ukuran lingkar kepala, muntah, dan menangis keras).
Inmtervensi
1. Kaji kondisi neurilogis setiap 2 sampai 4 jam, catat adanya tanda-tanda letargy, penonjolan ubun-ubun, perubahan pupil, atau kejang-kejang.
2.Ukur lingkar kepala bayi setiap hari.
3.Kaji ubun-ubun depan bayi setiap 4 sampai 8 jam.
4. Laporkan kemungkinan adanya pembengkakakn disekitarnya atau pengeluaran cairan jernih dari bagian belakang insisi.
Rasional
1. Engkajian status neurologis sesering mungkin sebagai dasar mengidentifikasi adanya tanda-tanda hidrosefalus
2. Penambahan ukuran lebh dari batas normal m,erupakan tanda-tanda hidrosefalus
3. Secara normal, ubun-ubun depan akan tertutup pada usia 12 sampai 15 bulan. Apabila pada usia itu terjadi penonjolan maka berindikasi peningkatan TIK.
4. Pembengkakan atau pengeluaran cairan merupakan indikasi perkemangan hidrosefalus atau infeksi pembedahan(atau keduanya).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ASUHAN KEPERAWATAN | CONTOH ASUHAN KEPERAWATAN | CONTOH SKRIPSI KEPERAWATAN - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger