Asuhan Keperawatan Nutrisi (ASKEP)

KEBUTUHAN NUTRISI

Tujuan pembelajaran :
Setelah mempelajari materi ini, peserta didik :
1. Mendefinisikan beberapa batasan-batasan utama.
2. Dapat mengambarkan peran, sumber-sumber, dan defisiensi dari 6 kelas nutrisi
3. Menggambarkan proses pencrnaan, absorpsi, metabolisme, anabolisma dan katabolisma
4. Menggambarkan bagaimana perawat membantu klien dalam merencanakan diet
5. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi nutrisi
6. Menggambarkan masalah umum dalam nutrisi dan bagaimana asuhan keperawatan dapat membantu menyelesaikan masalah
7. Mengimplementasikan proses keperawatan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi klien

Perawat harus memiliki pemahaman dasar nutrisi guna mendidik dan memberikan asuhan keperawatan untuk kesehatan klien sesuai dengan kebutuhan nutrisi klien atau masalahnya. Mata kuliah ini akan mempersiapkan perawat memberikan asuhan keperawatan sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi klien. Setelah perkuliahan ini mahasiswa memperoleh pengetahuan guna mengkaji asupan nutrisi, mengembangkan diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan nutrisi, membuat tujuan, menggunakan berbagai metoda guna memilih makanan, dan mengevaluasi secara efektif dan efisien.
Nutrisi, sebagai kebutuhan dasar harus terpenuhi pada klien guna mempertahankan kehidupannya, hal ini sangat menonjol dalam lapangan kesehatan sehari-hari. Mengapa seseorang tidak kuat atau malas membaca?. Hal ini disebabkan karena kekurangan energi yang dibentuk dari makanan.

Nutrisi

Asuhan Keperawatan MENINGITIS (ASKEP)

Askep Meningitis
Pendahuluan
Meningitis adalah peradangan selaput otak, sumsum tulang belakang, atau keduanya. Penyebabnya adalah bakteri atau virus, meningitis sering didahului oleh infeksi pernafasan, tenggorokan, atau tanda-tanda dan gejala-gejala flulike. Sejumalah kuman Neisseria meningitidis merupakan penyebab yang sering terjadinya meningitis. Penyakit ini mempunyai insiden tinggi pada anak dibawah usia 5 tahun, dengan puncak insiden pada anak usia 3 sampai 5 tahun. Bentuk meningitis yang berat yaitu meningococcemia yang dimulai dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian. Tanda-tanda dan gejala-gejala meliputi demam tinggi, lesu, menggigil, dan adanya rash.
PENGKAJIAN

Saraf
· Kejang-kejang
· Peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
· Sunset eyes (setting-sun sign)
· Kekakuan
· Kernig’s sign positif
· Brundzinzki’s sign positif
· Reaksi pupil menurun
· Gelisah
· Opisthotonos
· Nyeri kepala
· Menangis dengan bunyi melengking
Pernafasan
· Baru saja mengalami riwayat infeksi, sakit tenggorokan, atau tanda-tanda dan gejala-gejala flulike
Gastrointestinal
· Muntah
Integumen
· Ubun-ubun menonjol
· Petechiae
· Ekstremitas dingin
· Rash
· Sianosis
· Demam
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK
Hasil yang diharapkan
Anak tidak akan mengalami tanda-tanda peningkatan TIK
Intervensi
1. Kaji status neurologis anak setiap 2 sampai 4 jam, catat adanya tanda kelemahan, penonjolan ubunubun (pada bayi), perubahan pupil, atau kejang-kejang
2. Monitor asupan dan output cairan setiap pergantian dinas
3. Monitor tanda-tanda vital setiap 2 sampai 4 jam
4. Catat kualitas dan nada nangis anak
Rasional
1. Pengkajian status neurologis yang sering sebagai dasar mengidentifikasi tanda-tanda dini peningkatan TIK
2. Peningkatan volume cairan akan meningkatkan TIK
3. Sura nyaring yang ditimbulkan saat anak menangis berindikasi peningkatan TIK
Intervensi
1. Lakukan pencegahan kejang, seperti menggunakan artifisial airway dan peralatan pengisapan lendir dan pasang penghalang tempat tidur.
2. Berikan pengobatan anticonvulsan, sesuai petunjuk.
3. Selama kejang, berikan tindakan :
· Bantu anak baring miring ditempat tidur atau dilantai, bebaskan dari faktor yang menghalangi pada area pernafasan
· Jangan mengikat anak, tetapi biarkan bebas
· Jangan menempatkan sesuatu di mulut anak
· Kaji status pernafasan anak
· Catat berbagai gerakan anak dan lamanya kejang-kejang
Rasional
1. Pencegahan ini akan membantu anak jatuh, injury kepala, anoksia, tercekik, dan mati dan mengurangi risiko komplikasi yanglain
2. Pengobatan anticonvulsan membantu mengontrol kejang
3. Tindakan ini membantu melindungi anak dan follow-up tindakan
· Tahap ini membantu mencegah injury akibat terjatuh dan dari gerakan sentakan selama kejang
· Pengikatan atau gerakan yang kuat pada anak menyebabkan anak mengalami injury
· Mencoba memasukkan benda kedalam mulut anak dapat merusak gigi dan gusinya
· Anak memerlukan resusitasi pernafasan jika mengalami apnea selama atau setelah kejang
· Jenis gerakan ini dan lamanya kejang membantu menjelaskan apakah jenis kejang yang dialami anak
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Hipertemia berhubungan dengan infeksi
Hasil yang diharapkan
Suhu badan anak akan turun kurang dari 100˚F (37.8˚C)
Intervensi
1. Monitr suhu badan anak setiap 2 sampai 4 jam,
2. Berikan antipiretik sesuai petunjuk
3. Berikan antimikroba, sesuai petunjuk
4. Pertahankan lingkungan sejuk
5. Berikan kompres (98.6˚ F [(37˚C)], sesuai petunjuk
Rasional
1. Monitoring penurunan temperatur
2. Antipiretik menurunkan demam yang diturunkan sampai suhu normal
3. Antimikroba menangani infeksi
4. Lingkungan yang sejuk akan menurunkan demam melalui kehilangan panas secara radiasi
5. Kompres dingin pada permukaan tubuh secara konduksi.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Asuhan Keperawatan DIABETES MELLITUS (ASKEP)

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN : DIABETES MELLITUS
Diabetes mellitus adalah penyakit kronik yang sering terjadi pada orang dewasa. Walaupun demikian sangat bergantung pada jenis diabetes dan usia klien, keduanya memerlukan asuhan keperawatan yang beragam. Penyakit ini ditandai dengan hiperglikemia yang tidak adekuat disebabkan oleh defisiensi insulin yang relatif atau menetap. Penyakit ini adalah jenis penyakit yang sering terjadi, walaupun demikian tidak jelas penyebabnya. Klien dengan diabetes mellitus akan mengalami perobahan sepanjang hidupnya dalam pola hidup dan status kesehatan. Asuhan keperawatan diberikan di tatanan pelayanan terhadap diagnosa penyakit serta penanganan komplikasi. Peran utama perawat adalah sebagai edukator baik di rumah sakit maupun dimasyarakat.
Diabetes mellitus ditandai dengan adanya intoleransi glucose. Penyakit ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara supply insulin dan kebutuhan insulin.
DM dapat terjadi akibat tidak terpenuhinya insulin sesuai kebutuhan atau insulin yang diproduksi tidak efektif sehingga terjadi tingginya kadar glucosa darah. DM juga menyebabkan gangguan metabolisma protein dan lemak. DM berhubungan dengan microvascular, macrovascular, dan neuropathy.
Ada dua jenis utama DM :
  1. Insulin-dependent diabetes mellitus (IDDM/type I).
  2. Non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM/type II).
Insiden :
AS : 85-90% menderita NIDDM.
DM dapat menimbulkan kecacatan yang permanen :
  1. kebutaan pada orang dewasa.
  2. gagal ginjal (AS : 25% pasien dialisa menderita DM).
  3. 50-70% amputasi non traumatic.
  4. meningkatnya risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Klien dengan DM adalah dua kali akan berisiko penyakit jantung koroner dan tiga kali berisiko stroke.
Etiologi :
IDDM :
Sering terjadi pada usia sebelum 30 tahun. Biasa juga disebut Juvenile dibetes, yang gangguan ini ditandai dengan adanya hiperglikemia (meningkatkatnya kadar gula darah).
Faktor genetik dan lingkungan merupakan faktor pencetus IDDM. Oleh karena itu insiden lebih tinggi atau adanya infeksi virus (dari lingkungan) , sehingga pengaruh lingkungan dipercaya mempunyai peran dalam terjadinya DM. Klien yang memiliki faktor predisposisi, infeksi virus dan mikro organisma, misalnya coxsackievirus B dan streptococcus = faktor etiologi.
Virus /mikro organisma akan menyerang pulau2 langerhans pankreas, yang membuat kehilangan produksi insulin. Dapat pula akibat responm auto immune, dimana antibodi sendiri akan menyerang sel beta pankreas.
Faktor herediter, juga dipercaya memainkan peran munculnya penyakit ini.

NIDDM

Virus dan human leucocyte antigen tidak nampak memainkan peran terjadinya NIDDM.
Faktor herediter memainkan peran yang sangat besar.
Riset melaporkan bahwa obesitas salah satu faktor determinan terjadinya NIDDM sekitar 80% klien NIDDM adalah kegemukan (20% diatas BB ideal).
Overweight membutuhkan banyak insulin untuk metabolisma. Terjadinya hiperglikemia disaat pankreas tidak cukup menghasilkan insulin sesuai kebutuhan tubuh atau saat jumlah reseptor insulin menurun atau mengalami gangguan (sering terjadi pada orang kegemukan).
Meningkatnya usia merupakan faktor ririko yang menyebabkan pankreas menjadi lebih berkurang .
Faktor risiko :
Klien dengan riwayat keluarga menderita DM adalah risiko yang besar, terutama IDDM.
Pencegahan utama NIDDM adalah mempertahankan BB ideal. Pencegahan sekunder berupa program penurunan BB, olah raga, dan diet.
Oleh karena DM tidak selalu dapat dicegah, maka sebaiknya sudah dapat dideteksi pada tahap awal. Tanda-tanda/gejala yang ditemukan adalah :
  1. kegemukan.
  2. perasaan haus yang berlebihan, lapar, diuresis, dan kehilangan BB.
  3. bayi lahir lebih dari normal.
  4. memiliki riwayat keluarga DM.
  5. Usia diatas 40 tahun.
  6. Bila ditemukan peningkatan gula darah.

Asuhan Keperawatan GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN (ASKEP)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)
Pendahuluan :
Masalah yang sering di alami seorang pria usia lanjut yang berhubungan dengan sistem perkemihan adalah Benign Prostatic Hyperlasia (BPH). Prostat adalah organ perkemihan yang sering mengalami neoplasma : Benigna atau Maligna.
Masalah ini sering terjadi pada 50 % pria diatas usia 50 tahun, dan 75 % pria di atas 70 tahun. Di Indonesia insiden ini akan banyak ditemukan sehubungan dengan semakin banyaknya usia lanjut karena meningkatnya usia harapan hidup. Dengan demikian akan banyak pula kasus ini tinggal rawat di rumah sakit yang pada umumnya berindikasi pembedahan.
Pada kondisi ini, sebagai seorang perawat akan sering diperhadapkan dengan masalah keperawatan yang terkait dengan kasus BPH terutama yang berhubungan dengan tindakan pembedahan. Oleh karena itu perawat perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk menangani klien BPH khususnya dalam asuhan keperawatan perioperatif (pra bedah, intra bedah, dan pasca bedah).
Etiologi :
BPH adalah pembesaran jaringan kelenjar prostat yang bersifat jinak. Walaupun tidak diketahui secara pasti penyebabnya sebab bersifat universal terjadi pada usia lanjut. Namun demikiandiperkirakan bahwa peningkatan jumlah sel prostat sebagai hasil dari adanya perubahan endokrin yang berhubungan dengan proses penuaan. Terjadinya akumulasi dihydroxytestosteron (hormonm androgen utama dalam kelenjar prostat), stimulasi estrogen, dan aktifitas hormon pertumbuhan lokal lainnya dianggap berperan dalam terjadinya BPH (Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000)
Demikian pula dengan faktor yang berhubungan dengan diet, pengaruh inflamasi kronik, faktor sosial ekonomi, herediter, dan ras semuanya dapat dipertimbangkan berperan dalam terjadinya BPH (Black & Jacobs, 1997).
Faktor Resiko :
BPH sering ditemukan pada seorang pria lanjut usia, oleh karena itu tidak ada pencegahan utamanya. Pria dengan kastraksi atau yang mengalami hypogonadism sebelum pubertas atau pada pria awal dewasa jarang mengalami BPH. Insiden meningkat pada pria kulit hitam, dan kurang pada pria Asia (Black & Jacobs, 1997).
Yang utama adalah deteksi dini merupakan pencegahan sekunder yang terbaik. Deteksi dini diperlukan guna menangani secara cepat sehingga mencegah terjadinya komplikasi yang berhubungan dengan obstruksi saluran  perkemihan bagian bawah.
Sebaiknya pemeriksaan prostat sudah dilakukan pada usia 40 tahun.
Pathophysiology :
Pembesaran prostat yang bersifat junak adalah peningkatan secara abnormal jumlah sel normal(hyperlasia) dalam prostat, agaknya juga terjadi pembesaran sel-sel prostat(hypertrophy).
Kelenjar periurethral yang mengalami hiperplasi pada usia lanjut yang secara bertahap bertumbuh dan menekan pada sekeliling jaringan prostat yang normal yang mendorong kelenjar kedepan, dan membentuk kapsul.
Komplikasi yang mungkin terjadi akibat pembesaran prostat termasuk hambatan aliran urin dan juga akan mengakibatkan terjadinya urinary reflux (backward flow) yang akan menyebabkan dekompensasi uretrovesical junction.
Akibat dekompensasi menyebabkan peningkatan tekanan kandung kemih yang lama, menipisnya dinding kandung kemih akibat peregangan dan memudahkan terjadinya infeksi kandung kemih atau terbentuknya batu kandung kemih.
Akibat tekanan kandung kemih, ureter akan mengalami tekanan dan obstruksi sehingga dapat menyebabkan hydroureter dan selanjutnya dapat menyebabkan hydronephrosis,akibatnya piala ginjal dan kaliks akan mengalami distensi dan jaringan parenkim ginjal akan mengalami atrofi. Selanjutnya obstruksi yang terjadi bila  berlangsung lama atau mengalami reflux akan menyebabkan terjadinya insufisensi renal.
Manifestasi Klinik :
BPH biasanya terjadi secara perlahan-lahan sehingga dalam perkembangannya kadang-kadang tidak dirasakan sebagai gangguan. Perlu diketahui bahwa pada usia lanjut, akan terjadi peningkatan frekuensi berkemih. Bila seseorang mengeluh bahwa jumlah dan kekuatan aliran urin tidak terjadi secara normal, maka patut dicurigai terjadinya BPH dan perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut.
Pada BPH, aliran urin berkurang derasnya, nampak aliran melemah dan kadang-kadang hanya menetes. Klien akan merasakan kurang puas dalam berkemih. Mungkin pula terdapat darah dalam urin.
Akibat pembesaran prostat, akan sangat berbahaya terjadinya obstuksi perkemihan yang komplit dan terjadi retensi. Retensi dapat dipicu oleh :